Sabtu, 06 Desember 2014

Berakhir dengan Keadaan Berandai-andai dan Menangisi Penyesalan

Perkenalkan, di kisah ini saya adalah seorang pemuda yang dianugerahi ilmu agama oleh Allah lebih dari saudara muslim lain pada umumnya. Cita-cita mulia saya adalah mengajak semua manusia di dunia untuk memeluk Agama Islam yang Haq. Saya mengajak non muslim untuk memeluk Islam setiap saya bertemu dengan mereka. Namun yang saya dapatkan hanya kekecewaan, ajakan saya diabaikan oleh mereka. tak satupun dari mereka yang mau mengikuti ajakan saya. Dalam hati saya bergumam, "Ah, sudahlah. Mungkin Allah belum memberi hidayah."
Sejak saat itu saya merubah cita-cita saya. Kini cita-cita saya adalah meningkatkan kualitas muslim dunia. Banyak dari mereka yang telah memeluk Agama Islam namun ibadah, akhlaq dan thabi'atnya masih belum sesuai dengan apa yang diajarkan Allah dan Rasulullah. Setiap saya bertemu dengan saudara muslim yang melakukan kesalahan di mata saya, saya tegur mereka dengan tindakan atau dengan lisan. Namun usaha saya yang maksimal tetap sia-sia. Mereka tetap berbuat semau mereka. Dalam hati saya bergumam, "Ah, sudahlah. Mungkin Allah belum memberi hidayah."
Tak terasa, raga mulai menua. Cita-cita pun saya rubah, Cukuplah saya memperbaiki kualitas muslim yang ada di lembaga saya saja. Mendidik mereka dengan akhlaq, thabi'at, budi luhur, Serta melancarkan 'amrin jami' yang seharusnya tertib. Segala upaya pun saya lakukan, namun tetap tiada hasil. Dalam kekecewaan saya bergumam, "Apakah ada yang salah dengan diri saya? Ah, sudahlah. Mungkin Allah belum memberi hidayah."
Karena keadaan fisik yang semakin melemah, saya pun merubah cita-cita saya. Cukuplah memperbaiki kualitas jama'ah se-DPD, mengajak mereka menetapi kewajiban dan 'amrin jami' dengan tertib, meluruskan akhlaq, thabi'at serta budi luhur mereka. Namun tetap tak ada hasil. Begitu seterusnya hingga sampai tingkat PAC. Ajakan saya tak pernah berhasil sesuai harapan. Saya berusaha menyadarkan diri saya setiap mengalami kegagalan tersebut dengan bergumam, "Ah, sudahlah. Mungkin Allah belum memberi hidayah."
Saya pun merubah cita-cita saya yang kesekian kalinya. Saya ingin menggunakan sisa umur saya untuk memperbaiki kualitas keimanan keluarga saya. Saya ingin putera-putera saya menjadi pemimpin-pemimpin dengan bekal kefahaman agama serta thabi'at yang jujur dan amanah. Saya ingin istri dan puteri-puteri saya menjadi muslimah yang benar-benar muslimah. Saya ingin ketika saya meninggalkan mereka kelak, mereka menjadi muslim yang haqiqi. Namun ajal lebih dulu tiba sebelum cita-cita mulia itu terwujud.
Kini, di atas perbarian dengan cucuran air mata, jelas terasa nyawa mulai terangkat, kedua kaki telah tak merasakan apa-apa, di tengah kerumunan keluarga di akhir kehidupan, saya bergumam, "Apa yang saya lakukan selama ini adalah salah. Saya telah meninggalkan diri saya dalam kesalahan. Seharusnya saya merubah diri saya terlebih dahulu. Masih banyak melalaikan kewajiban. Saya masih belum tertib mengikuti setiap 'amrin jami'. Kualitas akhlaq dan thabi'at saya masih belum sesuai dengan kuantitas ilmu yang saya miliki. Jika saya merubah kualitas keimanan saya, saya akan bisa memperbaiki keluarga saya. Jika keluarga saya baik, saya bisa memperbaiki jama'ah se-PAC. Jika jama'ah PAC saya baik, saya bisa memperbaiki jama'ah se-PC. Jika jama'ah PC saya baik, saya bisa memperbaiki jama'ah se-DPD. Jika jama'ah DPD saya baik, saya bisa memperbaiki jama'ah seluruh lembaga saya, kemudian seluruh umat muslim, dan saya bisa mengajak non muslim untuk memeluk Agama Islam dengan Haq."
Ia, kehidupan dunia saya berakhir dengan keadaan berandai-andai dan menangisi penyesalan. Semua karena saya ingin memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki diri saya sendiri.