Senin, 08 Desember 2014

Adilkah Allah?

Saya ingin berbagi cerita hidup dengan pembaca. Perkenalkan, saya adalah seorang pemuda yang sedang menjalani kisah asmara dengan seorang wanita. Awal perkenalan kami tanpa sengaja melalui salah satu jejaring sosial. Awalnya kami hanya iseng-iseng chat. Entah sesuatu apa yang menggiring kami, singkat cerita kami ketemu darat, kenalan lebih dalam, kencan pertama, dan akhirnya kami jadian.
Awalnya kami pacaran sewajarnya karena sedikit banyak, kami tahu tentang batasan-batasan dalam Islam. Namun, perlahan kami tak menghiraukan batasan-batasan itu lagi. Kami mencoba sesuatu yang lebih jauh untuk menuruti rasa perasaan kami. Aktifitas pacaran kami pun mulai tak sehat lagi. Kami pegangan tangan, berpelukan, ciuman, bercumbu, hingga akhirnya kami melakukan perzinahan. Kami sangat menyesal akan apa yang telah kami lakukan. Selain karena ancaman akhirat, kami takut seandainya perbuatan kami menghasilkan anak berstatus haram, terutama pacar saya sebagai wanita.
Dan benar saja, perbuatan kami berbuahkan hal yang tidak kami harapkan kehadirannya, dia hamil. Saya dan dia mencoba merundingkan hal ini dengan empat mata. Namun perundingan kami tak berujung dan tak menemukan kesepakatan karena perbedaan keinginan. Keinginan saya adalah menggugurkan bayi yang ada dalam kandungannya kemudian berpisah, melupakan segalanya dan menjalani kehidupan masing-masing dengan wajar, namun dia menolak. Dia ingin agar saya bertanggungjawab atas apa yang telah saya lakukan terhadapnya. Dia ingin saya menikahinya, hidup bersama dan meramut bayi yang saat ini ada dalam kandungannya. Saya menolaknya, saya tidak ingin hubungan terlarang ini dilanjutkan. Saya merasa tidak harus bertanggungjawab, toh apa yang telah kami lakukan semua atas dasar suka sama suka. Dan saya ingin membangun keluarga yang baik lahir dan batin, bukan keluarga yang sebelumnya telah melakukan perbuatan terlarang dan di tengahnya hidup anak hasil perbuatan terlarang tersebut.
Dua hari setelah perundingan tertutup itu, dia datang ke rumah beserta kedua orang tuanya dengan niat bertemu dengan kedua orang tua saya. Namun saya mengusirnya beserta kedua orang tuanya. Saya katakan kepada mereka bahwa bayi yang ada dalam kandungannya bukanlah hasil perbuatan saya, jadi jangan pernah meminta pertanggungjawaban saya lagi dan jangan pernah memijakkan kaki di rumah saya lagi.
Suatu siang saya merenung, sudah dua tahun sejak kejadian itu dan saya tidak pernah lagi mendengar kabarnya dan calon bayi yang dia miliki. Tak lama kemudian, lamunan saya buyar karena jeritan keras ibu di dapur. Saya bergegas menghampiri dan menemukan ibu tergeletak lemas di lantai dengan adik perempuan saya berdiri seraya mengisak tangis di samping ibu. Saya lekas membangunkan ibu seraya bertanya pada adik perihal yang menyebabkan ibu shok, namun hanya isakan tangis yang keluar dari lisannya. Ibu pun menjawab seraya terisak bahwa adik perempuan saya telah dihamili pacarnya namun pacarnya tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya.
Sontak tubuh dan hati saya bagai disambar halilintar tanpa awan hitam di siang hari, di bawah terik matahari. Saya berdo'a dengan nada protes kepada Allah atas apa yang menimpa adik perempuan saya. Namun jawaban do'a dari Allah, seakan ada yang menyeret paksa ingatan saya akan kejadian dua tahun lalu. "Mungkinkah ini siksa di dunia? Lantas kenapa adik saya yang harus menanggung semua beban akibat perbuatan dosa saya?"
Semenjak kejadian yang menimpa adik saya, saya tak pernah lagi menjalin ikatan terlarang dengan wanita lain. Saya pun melamar dan menikah dengan wanita baik menurut pilihan saya. Kami menjalani resepsi pernikahan dengan kebahagiaan di tengah-tengah keluarga dan tamu undangan. Namun setelah resepsi selesai, kebahagiaan tak lagi saya rasakan di malam pertama sebab kalimat maaf dari istri saya karena sebelumnya, dia pernah berbuat zina dengan laki-laki lain dan menggugurkan kandungannya karena laki-laki tersebut tidak ingin bertanggungjawab dan menyangkal bayi yang ada dalam kandungannya.
Jantung seakan kehilangan kemampuan detaknya. Detik itu dalam hati saya bertanya kepada Allah dengan lepas emosi dan penyesalan, "Yaa Allah, belum cukupkah balasan dosa hamba atas semua yang telah hamba dapatkan selama ini? Kenapa hamba harus dihukum yang kedua kalinya? Bukankah Engkau adalah Dzat Yang Maha Menerima Taubat?"
Semua telah terjadi. Waktu pun mengajarkan agar saya menjalani semua yang telah Allah gariskan kepada hamba-Nya yang pezina seperti saya ini.
Kami telah dianugerahi putri nan cantik jelita yang kini telah duduk di bangku sekolah dasar. Di hari ke tiga awal masuk sekolah, Putri kami pulang dengan tangisan dan mengadu dengan bahasa kanak-kanaknya yang menyimpan maksud bahwa tukang becak langganan yang kami tugaskan untuk mengantar-jemputnya sekolah telah melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Istri saya pun menangis sejadi-jadinya, namun saya hanya terdiam.
Semua saya kembalikan ke diri saya sendiri. Kini saya baru sadar, ketika saya berzina dengan seorang wanita, itu berarti saya berzina dengan saudara perempuan dari seorang laki-laki, saya berzina dengan calon istri dari seorang laki-laki, dan saya berzina dengan putri dari seorang ayah.